Balai Inspirasi

Cari Inspirasi

Memuat...

Minggu, 17 Juli 2011

Perkembangan anak usia 6 – 12 Tahun


A. Karakteristik Perkembangan anak usia 6 – 12 Tahun

Anak yang berada pada masa ini adalah anak yang berada pada rentangan usia dini. Masa usia dini ini merupakan masa perkembangan anak yang pendek tetapi merupakan masa yang sangat penting bagi kehidupannya. Oleh karena itu, pada masa ini seluruh potensi yang dimiliki anak perlu didorong sehingga akan berkembang secara optimal.

Karakteristik perkembangan anak pada usia 6-12 tahun ini biasanya pertumbuhan fisiknya telah mencapai kematangan, mereka telah mampu mengontrol tubuh dan keseimbangannya. Mereka telah dapat melompat dengan kaki secara bergantian, dapat mengendarai sepeda roda dua, dapat menangkap bola dan telah berkembang koordinasi tangan dan mata untuk dapat memegang pensil maupun memegang gunting.

Selain itu, perkembangan anak dari sisi sosial, antara lain mereka telah dapat menunjukkan keakuannya tentang jenis kelaminnya, telah mulai berkompetisi dengan teman sebaya, mempunyai sahabat, telah mampu berbagi, dan mandiri karena anak telah mampu beradaptasi dengan baik.


· Kemampuan anak yang adaptif

- Mampu menyelesaikan tugas secara operasional dan tuntas.

- Perhatian/daya tarik pada diferensiasi tugas/kegiatan yang lebih luas.

- Mampu membedakan imagery dan realitas.

- Kagum pada idola diluar orang tua.

- Keinginan berteman (hubungan teman sebaya).

- Lebih mampu untuk menunda pemuasan segera.

Perkembangan anak usia dari sisi emosi antara lain anak telah dapat mengekspresikan reaksi terhadap orang lain, telah dapat mengontrol emosi, sudah mampu berpisah dengan orang tua dan telah mulai belajar tentang konsep nilai misalnya benar dan salah.

Untuk perkembangan kecerdasannya, ditunjukkan dengan kemampuannya dalam melakukan seriasi, mengelompokkan obyek, berminat terhadap angka dan tulisan, meningkatnya perbendaharaan kata, senang berbicara, memahami sebab akibat dan berkembangnya pemahaman terhadap ruang dan waktu.

Berikut karakteristik umum yang terjadi pada rentang usia 6-12 tahun:


· Anak Usia 6 - 7 Tahun

- Mulai membaca dengan lancar

- Cemas terhadap kegagalan

- Peningkatan minat pada bidang spiritual

- Kadang Malu atau sedih


· Anak Usia 8 – 9 Tahun

- Kecepatan dan kehalusan aktivitas motorik meningkat

- Mampu menggunakan peralatan rumah tangga

- Ketrampilan lebih individual

- Ingin terlibat dalam sesuatu

- Menyukai kelompok dan mode

- Mencari teman secara aktif.

· Anak Usia 10 – 12 Tahun

- Perubahan sifat berkaitan dengan berubahnya postur tubuh yang berhubungan

dengan pubertas mulai tampak.

- Mampu melakukan aktivitas rumah tangga, seperti mencuci, menjemur pakaian

sendiri, dll.

- Adanya keinginan anak unuk menyenangkan dan membantu orang lain.

- Mulai tertarik dengan lawan jenis.

B. Kebutuhan Dasar Anak Usia 6-12 Tahun

Anak berusia 6 - 12 tahun, biasanya menyebut usia ini sebagai "usia tanggung". Namun resminya, usia ini disebut usia pertengahan anak-anak atau lebih dikenal sebagai anak usia sekolah. Diusia ini ia sudah memasuki dunia sekolah yang lebih serius. Walaupun, ia tetap seorang anak dengan dunia anak-anaknya yang khas.

Masa ini ditandai dengan perubahan dalam kemampuan dan perilaku. Pertumbuhan dan perkembangan anak membuatnya lebih siap untuk belajar dibanding sebelumnya. Anak juga mengembangkan keinginan untuk melakukan berbagai hal dengan baik, bahkan bila mungkin dengan sempurna. Karakteristik anak usia sekolah jelas berbeda dengan pra-sekolah. Orang tua perlu melakukan pendekatan yang berbeda, dibanding sebelumnya, ketika anak masih duduk di Taman kanak-kanak.

C. Kebutuhan Pengetahuan

1. Perkembangan Kognitif

Dalam keadaan normal, pada periode ini pikiran anak berkembang secara berangsur-angsur. Jika pada periode sebelumnya, daya pikir anak masih bersifat imajinatif dan egosentris, maka pada periode ini daya pikir anak sudah berkembang ke arah yang lebih konkrit, rasional dan objektif. Daya ingatnya menjadi sangat kuat, sehingga anak benar-benar berada pada stadium belajar.

Menurut teori Piaget, pemikiran anak – anak usia sekolah dasar disebut pemikiran Operasional Konkrit (Concret Operational Thought), artinya aktivitas mental yang difokuskan pada objek – objek peristiwa nyata atau konkrit. Dalam upaya memahami alam sekitarnya, mereka tidak lagi terlalu mengandalkan informasi yang bersumber dari pancaindera, karena ia mulai mempunyai kemampuan untuk membedakan apa yang tampak oleh mata dengan kenyataan sesungguhnya. Dalam masa ini, anak telah mengembangkan 3 macam proses yang disebut dengan operasi – operasi, yaitu :

a). Negasi (Negation)

Pada masa konkrit operasional, anak memahami hubungan-hubungan antara benda atau keadaan yag satu dengan benda atau keadaan yang lain.

b). Hubungan Timbal Balik (Resiprok)

Anak telah mengetahui hubungan sebab-akibat dalam suatu keadaan.

c). Identitas

Anak sudah mampu mengenal satu persatu deretan benda-benda yang ada.

Operasi yang terjadi dalam diri anak memungkinkan pula untuk mengetahui suatu perbuatan tanpa melihat bahwa perbuatan tersebut ditunjukkan. Jadi, pada tahap ini anak telah memiliki struktur kognitif yang memungkinkanya dapat berfikir untuk melakukan suatu tindakan, tanpa ia sendiri bertindak secara nyata.

a. Perkembangan Memori

Selama periode ini, memori jangka pendek anak telah berkembang dengan baik. Akan tetapi, memori jangka panjang tidak terjadi banyak peningkatan dengan disertai adanya keterbatasan-keterbatasan. Untuk mengurangi keterbatasan tersebut, anak berusaha menggunakan strategi memori (memory strategy), yaitu merupakan perilaku disengaja yang digunakan untuk meningkatkan memori. Matlin (1994) menyebutkan 4 macam strategi memori yang penting, yaitu :

1. Rehearsal (Pengulangan): Suatu strategi meningkatkan memori dengan cara mengulang berkali-kali informasi yang telah disampaikan.

2. Organization (Organisasi): Pengelompokan dan pengkategorian sesuatu yang digunakan untuk meningkatkan memori. Seperti, anak SD sering mengingat nama-nama teman sekelasnya menurut susunan dimana mereka duduk dalam satu kelas.

3. Imagery (Perbandingan): Membandingkan sesuatu dengan tipe dari karakteristik pembayangan dari seseorang.

4. Retrieval (Pemunculan Kembali): Proses mengeluarkan atau mengangkat informasi dari tempat penyimpanan. Ketika suatu isyarat yang mungkin dapat membantu memunculkan kembali sebuah meori, mereka akan menggunakannya secara spontan.

Selain strategi-strategi memori diatas, terdapat hal lain yang mempengaruhi memori anak, seperti tingkat usia, sifat anak (termasuk sikap, kesehatan dan motivasi), serta pengetahuan yang diperoleh anak sebelumnya. Karena itu proses belajar-mengajar yang baik adalah jika anak berinteraksi dengan pendidik, yaitu orangtua dan guru. Maka pendidik harus pandai menciptakan situasi yang nyaman, membangkitkan semangat belajar, dan anak antusias belajar dengan memberikan metode pengajaran yang tepat.

Jika tipe belajar anak lebih aktif melalui alat pendengarannya (auditif), maka anak diajarkan dengan mendengarkan kaset yang diselingi dengan menunjukkan gambarnya (demonstrasi). dapat juga dengan memutarkan video agar anak dapat melihat (visual) dengan jelas apa yang terjadi. Dengan harapan, tujuan pembelajaran akan lebih mudah tercapai.

b. Perkembangan Pemikiran Kritis

Perkembangan Pemikiran Kritis yaitu pemahaman atau refleksi terhadap permasalahan secara mendalam, mempertahankan pikiran agar tetap terbuka, tidak mempercayai begitu saja informasi-informasi yang datang dari berbagai sumber serta mampu befikir secara reflektif dan evaluatif.

c. Perkembangan Kreativitas

Dalam tahap ini, anak-anak mempunyai kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru. Perkembangan ini sangat dipengaruhi oleh lingkungan, terutama lingkungan sekolah. Metode belajar ditekankan pada bagaimana anak berpikir kreatif dengan melatih kemampuan anak bercerita dan mempresentasikan apa yang mereka ketahui, misalnya ketika menjelaskan suatu hal atau benda. Salah satunya dengan metode main maping, yaitu membuat jaringan topik. Misal, minta anak menjelaskan konsep meja dan biarkan anak memaparkan satu persatu pengetahuannya tentang meja mulai dari berbagai bentuk, fungsi sampai jumlah penyangganya.

d. Perkembangan Bahasa

Selama masa anak-anak awal, perkembangan bahasa terus berlanjut. Perbendaharaan kosa kata dan cara menggunakan kalimat bertambah kompleks. Perkembangan ini terlihat dalam cara berfikir tentang kata-kata, struktur kalimat dan secara bertahap anak akan mulai menggunakan kalimat yang lebih singkat dan padat, serta dapat menerapkan berbagai aturan tata bahasa secara tepat.

D. Kebutuhan Psikososial

Pada tahap ini, anak dapat menghadapi dan menyelesaikan tugas atau perbuatan yang dapat membuahkan hasil, sehingga dunia psikosial anak menjadi semakin kompleks. Anak sudah siap untuk meninggalkan rumah dan orang tuanya dalam waktu terbatas, yaitu pada saat anak berada di sekolah. Melalui proses pendidikan ini, anak belajar untuk bersaing (kompetitif), kooperatif dengan orang lain, saling memberi dan menerima, setia kawan dan belajar peraturan – peraturan yang berlaku. Dalam hal ini proses sosialisasi banyak terpengaruh oleh guru dan teman sebaya. Identifikasi bukan lagi terhadap orang tua, melainkan terhadap guru. Selain itu, anak tidak lagi bersifat egosentris, ia telah mempunyai jiwa kompetitif sehingga dapat memilah apa yang baik bagi dirinya, mampu memecahkan masalahnya sendiri dan mulai melakukan identifikasi terhadap tokoh tertentu yang menarik perhatiannya.

a. Perkembangan Pemahaman Diri

Pada tahap ini, pemahaman diri atau konsep diri anak mengalami perubahan yang sangat pesat. Ia lebih memahami dirinya melalui karakteristik internal daripada melalui karakteristik eksternal.

b. Perkembangan Hubungan dengan Keluarga

Dalam hal ini, orang tua merasakan pengontrolan dirinya terhadap tingkah laku anak mereka berkurang dari waktu ke waktu dibandingkan dengan periode sebelumnya, karena rata-rata anak menghabiskan waktunya di sekolah. Interaksi guru dan teman sebaya di sekolah memberikan suatu peluang yang besar bagi anak-anak untuk mengembangkan kemampuan kognitif dan ketrampilan sosial.

c. Perkembangan Hubungan dengan Teman Sebaya

Berinteraksi dengan teman sebaya merupakan aktivitas yang banyak menyita waktu. Umumnya mereka meluangkan waktu lebih dari 40% untuk berinteraksi dengan teman sebaya dan terkadang terdapat duatu grup/kelompok. Anak tidak lagi puas bermain sendirian dirumah. Hal ini karena anak mempunyai keinginan kuat untuk diterima sebagai anggota kelompok.

E. Kebutuhan Makanan dan Cairan

Saat berada di sekolah, teman dapat membawa pengaruh yang sangat penting. Contohnya soal jajan. Meskipun di rumah sudah tersedia makanan yang enak dan bersih, bukan tidak mungkin anak tetap ngotot ingin jajan yang tak lain karena semua temannya juga jajan. Bisa dipastikan anak akan lebih suka jajan karena rasa makanan yang dijual tadi umumnya lebih enak dan gurih dibanding yang tersaji di rumah. Mereka sama sekali tidak peduli kalau rasa yang enak dan gurih tersebut berasal dari bumbu penyedap maupun kandungan garam dan lemak yang tinggi. Selain itu, bagi anak-anak, jajan bersama teman memberikan suasana yang berbeda dibandingkan rumah sehingga terasa lebih mengasyikkan.

Sejak usia 6 tahun anak mengalami pertumbuhan dengan laju pertumbuhan yang tidak terlalu cepat, namun kebutuhan gizinya tetap harus terpenuhi. Bila kebutuhan gizinya tidak terpenuhi, maka dampak kurang gizi ini dalam jangka panjang dapat menimbulkan gangguan kognitif dan kemampuan akademiknya. Selain bisa menyebabkan penurunan aktivitas fisik serta membuatnya berisiko mengalami penyakit infeksi. Perlu diketahui, kecukupan gizi pada usia ini selain diperlukan untuk pertumbuhan juga dibutuhkan untuk metabolisme basal dan aktivitas fisik.

Selain itu, pada usia praremaja ini aktivitas fisik anak semakin meningkat. Disamping urusan sekolah, mereka juga disibukkan dengan berbagai kegiatan ekstrakurikuler dan mulai sering ngegang dengan teman-temannya. Semua kegiatan yang melibatkan aktivitas fisik membuat anak jadi gemar makan. Pada rentang usia ini, pertumbuhan yang dialami anak berlangsung mantap meski tidak sepesat masa bayi atau masa pubertas. Dengan demikian konsumsi makan yang berlebihan akan menyebabkan timbulnya kegemukan. Padahal kegemukan yang tejadi di usia anak akan sulit dikoreksi setelah anak tersebut dewasa. Lantaran itu, pengaturan pola makan yang baik sudah harus diterapkan sejak dini. Sementara kegemukan yang tak tertangani dan dibiarkan berlanjut kelak dapat memicu berbagai penyakit degeneratif seperti diabetes dan jantung. Selain itu, obesitas juga dapat mengganggu citra diri.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar